Tuesday, January 20, 2009

Prostitute... What Shoud I ......??

Few Scratches before I get back to my FYP..

Prostitute, how should I react to them..

Fenomena jual beli tubuh sebenernya udah terjadi sejak lamaaaaa sekali, entah kapan mulainya, ada saja kemungkinan perdagangan tubuh ini sudah terjadi sebelum mata uang sebagai pengganti sistem barter ditemukan.



Pernah kemaren gw jalan2 sama temen, ke Geylang sana, ngeliatin cewek2 yang memilih untuk menjajakan tubuh.. (atau ga sengaja ya? ato terpaksa?), seriously gw amaze ama apa yang gw liat, selama ini yang gw tau, prostitute cantik2 itu cuma ada di pelem2. Cantik putih mulus seksi, gw pikir itu cuma karena dia artis aja, ato sekedar menambah nilai positif dari peran pelacurnya itu sendiri, jadi walaupun dia terkesan murah dan menjual diri sendiri hanya dengan 5-6 digit mata uang rupiah, atau sekedar 2-3 digit dolar, tapi paling tidak sebenernya dia cantik or whatever. Ahh.. nggak nggak, ternyata di dunia nyatapun cewek2 itu, yang menjajakan tubuhnya itu, cantik2 dan mulus2, gw yang cewek juga seneng ngeliatnya hehehe.. :p

Tidak hanya gw yang amaze sama kelebihan dari Allah yang mereka punya, tapi temen2 gw cewek lain juga, lahh kalo cowok mah kagak usah ditanya lagi lahyaa.. :p . Beberapa teman cewek ada yang ketakutan berada di lokalisasi itu, ada yang miris, ada yang seneng2 aja kayak gw. But still, ada satu pertanyaan temen gw yang sampai sekrang STUCK di kepala gw :
"Kalo ngeliat mereka, lo kasian ato gimana?"


Jawaban gw saat itu :
"Nggak, menurut gw itu mereka yang mau, gw rasa sesulit apa pun keadaan yang Allah kasih, kita masih bisa pilih pekerjaan lain, mungkin duitnya gak segede kalo ngelacur, tapi kan masih bisa... "


Tapiii.... gw sendiri pun ragu dengan jawaban gw sendiri...

Beberapa waktu lalu, gw juga baca sebuah artikel tentang Korean prostitute yang diperuntukkan American Troops, di Korea *humm.. sejarah gw jelek, emang Amrik pernah perang2 di Korea ya? anywaayy..*. Disitu gw baca, mereka dijadikan seperti komoditi. Jadi kayak barang, yang penting yang makenya seneng dan selamat, kalo barangnya rusak gak dipake, dibenerin dulu di bengkel baru deh dipake lagi. Eitss.. gw gak berlebihan, analogi barang itu bener2 yang terjadi buat mereka. Disaat mereka sakit, mereka bakal di-forced to get well soon, bakal di tempatkan barak tertentu sampai sembuh, diharapkan cepat, biar bisa dipake lagi. Kalo gak sembuh2, pokoknya harus sembuh, harus bersih, biar bisa dipake, namanya juga MAKSA. Perasaan di pelacur gak digubris lagi, tidurin sampai puas aja, ganti sini ganti sana. Errrghh.. kali ini gw miris baca artikel prostitute ini. Satu kutipan dari artikel yang gw masih inget : "Di saat perang itu, saya rasa kami adalah korban yang paling dirugikan, dibanding yang lain."

Artikel lain tentang jual beli tubuh dari Nytimes. Asia dengan prostitutenya dijadikan sebagai komoditi pariwisata, mungkin udah sering denger, baik secara legal ataupun tidak. *Mau di larang gimana juga, prostitute bakal selalu ada!* . Ternyata di KENYA, kejadiannya tidak terlalu jauh berbeda, parahnya di artikel itu diceritakan tentang CHILD SEX. Having sex with a child?? Ohh C'mon guys, What are you thinking??!!! Prostitutenya gak main2, para pekerjanya berumur sekitar 10 thun. Arghhh.... What can they feel about sex? Berhubungan sex sebelum umur 20 tahun aja, bisa menambah kemungkinan si cewek dapet kanker rahim, apa lagi 10 tahun?? Bisa robek rahim mereka!!!! Anak 10 tahun, bisa apa saat mereka di tidurin, 10 tahun? I bet they haven't ever watched porn, how could they know what they're doing. Arghh.. tapi masih ada saja yang mau beli. Otaknya bukan di dengkul lagi ya? di jempol kaki kali ya...!!!!

Nah kali ini, setelah gw baca artikel terakhir, reaksi gw MARAH.

Banyak banget reaksi tentang masalah ini, prostitute, bahkan dari satu otak pun.

Kalimat seperti : " But.. Still... They are prostitute!" Rasanya agak2 janggal di otak dan hati gw.
Kalo kita pake kalimat itu sebagai jawaban, prostitutenya bisa jawab balik donk : "But still... we are human being!!". huhuhu.. gak kelar2lah..

Mungkin kita memang harus melihat dari berbagai sisi bagaimana dia bisa sampai menjual diri.

Gak bisa dipungkiri, sebenernya ada kenikmatan tersendiri untuk melakukan hubungan sex, disaat seseorang bisa melakukan hubungan itu kapan saja dan dapat uang, sah2 saja kalo mereka memilih pelacur sebagai pekerjaan, baik full-time atau half-time. Untuk hal ini, gw memilih untuk melihat mereka dan pekerjaannya yang maaf ya, entah kalian simpan dimana norma2 itu? Well, itu kalo gw berdiri di kaki gw, tapi disaat gw berdiri di kaki mereka? Sama aja kayak seorang pembalap, yang hobinya ngebalap, mereka seneng waktu bisa balap2an, akhirnya menjadikan membalap itu sebagai perkerjaan. Mereka senang dan nikmat saat membalap, dapet duit lagi. Sama kan?? Jadii.. mungkin gw ambil reaksi, cool with them, it's just the path that you choose. And for this kind of situation, gw rasa tidak ada yang perlu diselamatkan atau diingatkan. Biarkan saja. Menilai ? ya silahkan saja. Cuma kalo ternyata memilih pelacur sebagai pekerjaan, kalo gw saran sih, siap2 deh ama kerjaan lain, soalnya pekerjaan ini hanya bisa bertahaan sebentar, gak lama, paling sekitar 10 tahun aja, itu juga kalo pelacurnya bisa jaga badan biar tetep seksiong..

Tapi ada kasus yang terpaksa. Dimana mereka miskin, butuh uang sekedar untuk makan, atau sekolah, mau gak mau *sebenernya sih bisa untuk gak mau yaa.. * mereka harus menjual diri dan melacur. Bayangin orang yang baru aja tertimpa musibah, duitnya ludes, dan butuh makan, tapi ogah mulung di tempat pembuangan sampah, atau ngamen di pinggir jalan. Alhasil pilih kerjaan penghasil uang cepat, LACUR. Orang2 kalo tertimpa musibah, emang kadang2 kalo mikir suka pilih cepet aja. Tapi menurut gw jalan itu sama sekali gak heroik, melacur untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pengorbanannya terlalu besar, dan tidak heroik sama sekali. Gw yakin Allah gak pernah ngasih satu jalan aja buat suatu masalah. We can still choose another path.

Terpaksa, karena diculik dan segala macem. Kalo yang ini reaksi gw sedih. No more words. Ah.. If I can do something, I wanna do something, but what??!!

Pelacur itu gak selamamanya korban.
Pelacur juga gak selamanya harus dikasihani.
Pelacur gak harus juga didewakan.
Pelacur juga gak selamanya harus dipandang sinis.
Pelacur juga.. yahh masih manusia..
Masih banyak yang mungkin kita harus tau dibalik pelacur, sebelum bereaksi..

Ahh.. sebenernya kata pelacur pun berkonotasi negatif..

Sunday, January 11, 2009

It really came in a flash

Have you ever wondered, how did the feelings come and go?

Banyak yang bilang sama gw, bahwa rasa itu datengnya lebih banyak karena biasa. 
Karena biasanya ketemu, biasanya ngobrol, biasanya ada 'dia', maka keadaan gak ada 'dia' adalah suatu hal yang janggal. Dan manusia tercipta untuk tidak terlalu menyukai hal2 yang janggal *well.. janggal for himself of course :P* . 

Belakangan gw suka mikir tentang bagaimana gw bisa suka sama orang. Gak cuma dalam hal 'relationship-between-a-man-and-a-woman', tapi juga dalam pertemanan, sahabat, dan keluarga2 yang kita pilih dalam hidup kita. 

Mungkin gw adalah orang yang gampang 'attach' dengan seseorang. Kadang kalo gw sreg sama orangnya, padahal cuma sebulan aja kita tidur bareng, gw bisa sayaangggg banget sama orangnya. Gw bisa percaya sekali dengan orangnya. Tanpa alasan dan tanpa paksaan. Begitu saja. Padahal ada teman yang lain, berteman bertahun2, ngobrol udah dari ujung merauke sampai irian jaya sana, tapi tetep aja rasa 'attach' itu gak ada. Kalo gw tilik lagi, orang2 yang gw bener2 merasa sayang itu tidak sedikit yang hanya memakan waktu sebentar. Bisa saja terjadi dalam satu tahun, satu bulan, bahkan beberapa hari saja. Tapi gw yakin akan apa yang gw rasa. Gw sayang. 

And I start to think then, it's not about the time. It's about feelings. 

Laki2 memang lebih menggunakan kepala mereka daripada hati, they say. Bagi laki2, mereka mungkin membutuhkan banyak alasan untuk 'sayang' atau lebih dari itu 'cinta'.

Tapi gw pribadi, I don't have a lot of reason to love somebody. I don't take a lot of time to love somebody. When I feel that is love, than it is, untuk teman, pacar, dan sebagainya.

Begitu juga dengan pergi. I never know when it is. Mungkin dalam sebulan, mungkin dalam waktu yang lebih cepat lagi. 
Kadang gw juga gak sadar, bahwa rasa itu sudah pergi dari kapan tauu.. Begitu saja. 

=)

Well, 
I was freaking out, about you
I was freaking out, for all people asking about me and you, and the fact that I know we're both not sure for each other.
I was freaking out, about the past and the hurt that I can still feel of.
I was freaking out, freaking out and freaking out.. 
about you, about me, not about us yet. 

I realize that, the feelings come in a flash.
I don't know, is it there yet... 
But If it is there already, I am not ready for the hurts. 

See, It come and go in a flash too... 

Welcome and Bye Bye